Durinya Bermawar

Durinya Bermawar

Jum’at Mubarak.. hari ini adalah hari spesial. Setiap hari adalah hari yang spesial. Terutama hari ini. Bersama buah hati yang spesial, putra-putri Bunda.

Spesialnya mereka adalah kelebihan mereka. Jangan sampai Bunda lupa bahwa mereka adalah anak-anak yang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun kelebihan dan kekurangan itulah yang membuat mereka spesial. Mereka bisa menemukan cara suksesnya sendiri.

Glennon Melton berkata: “Jangan biarkan diri Anda begituuu khawatir akan bagaimana cara membesarkan anak dengan baik, sampai-sampai Anda lupa bahwa Anda TELAH memiliki anak yang baik.” Sering sekali orang tua begitu. 

Semut di ujung mana kelihatan, gajah di pelupuk mata kelewat melulu. Kita sibuk khawatir “Aduh Bu, Donny itu pendiam sekali deh anaknya” (Padahal dalam diamnya, dia sebetulnya sangat perhatian sama sekitarnya)

“Anak saya itu loh Bu, belum mau tidur sendiri, gimana ya?” Ibu itu lupa bahwa anaknya yang 3,5 tahun itu sudah bisa istinja (membersihkan diri setelah BAK dan BAB) sendiri, dan teman2 sebayanya belum bisa.

“Kenapa sih ya Bu, anak saya kalau di suruh belajar sulit sekali?” Tapi shalatnya si anak yang selalu di kerjakan tanpa disuruh lagi, gak pernah dapat apresiasi.

“Ya ampuuunnn, Raisa tuh kalo sama makanan sangaaat picky, udah kaya anak kurang gizi Bu, saya jadi malu.” Si anak sehat kan? Ceria kan? Aktif kan? Pintar kan? Lalu.. mau apa lagi??

Kalau punya anak yang sehat, pintar, sholeh, patuh, jujur, sopan, dan mandiri hidup orgtuanya enak sekali padahal, gak ada yang ideal di bawah matahari.
Kenapa sih dari 20 soal, 15 jawaban benar, tapi yang dilihat hanya 5 jawaban yang salah? 15 yang betul, gak kedengeran pujiannya.
Anak nilai matematikanya 55, tapi dia sudah hafal surat al-ghasiyah di usia yang begitu belia. LUPA?

Kenapa sih orang tua suka sekali begini Kenapa gak fokus sama positifnya sekali-kali? Lihat apa yang dia sudah bisa.. dan rayakan. Jangan bagian ‘yang belum bisa’ saja yang jadi topik pembahasan.

Anak pemalu di paksa tampil dengan berani, giliran nanti pas remaja sudah tak punya malu, orang tuanya susah sendiri. Kenapa sih selalu membandingkan dengan anak orang lain yang keliatannya selalu lebih? Gak bersyukur menerima anak dengan keunikannya sendiri. Kenapa yah?
Bukankah Allah bilang jika bersyukur maka akan semakin di tambah dan tambah lagi nikmat/rezekinya? Dan jika kufur, adzabnya sangat pedih Mulai sekarang ayolah ganti kacamata, dari yg minus 7, ganti sama yg plus 5 biar yang diliat yg positif-positif saja. Mulailah hari dengan, “Alhamdulillah, Mama senang sekali kamu sudah bisa sendiri …” Atau sekali-kali “Ayah sangat bangga padamu hari ini…’
Percaya gak kalau orang tuanya begini, anak akan menjadi manusia yang semakin happy dan percaya diri untuk menjadi orang yang lebih baik lagi? Gak percaya? Silahkan coba dan buktikan ya Ayah Bunda!

Kita bisa mengeluh mawar berduri, atau bisa bersyukur duri bermawar -Abraham Lincoln.

Elly Risman

Tinggalkan balasan bunda

Alamat Email Bunda tidak akan dipublikasikan Kolom isian yang penting diisi ditandai

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.