Bolehkah memberi kunyahan kurma pada bayi (Tahnik)?

Bolehkah memberi kunyahan kurma pada bayi (Tahnik)?

Kurma untuk bayi – Bunda baru saja melahirkan bayi? Jangan lupa untuk ditahnik atau memberikan kunyahan kurma di langit-langit mulut bayi. Sehingga bayi mendapatkan banyak manfaat dari tahnik dan kurma tersebut.

Tahnik berasal dari kata hanak yang berarti langit-langit mulut. Secara istilah berarti pemberian kunyahan kurma dari orang sholeh kepada bayi yang baru lahir kemudian didoakan. Selain mendapatkan doa, ternyata tahnik membantu bayi agar mempunyai daya tahan tubuh yang kuat.

Karena di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila para sahabat memiliki anak, mereka membawanya kepada Rasulullah untuk ditahnik.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa putera Abu Tholhah sakit. Ketika itu Abu Tholhah keluar, lalu puteranya tersebut meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia berkata, “Apa yang dilakukan oleh puteraku?” Istrinya (Ummu Sulaim) malah menjawab, “Ia sedang dalam keadaan tenang.” Ketika itu, Ummu Sulaim pun mengeluarkan makan malam untuk suaminya, ia pun menyantapnya. Kemudian setelah itu Abu Tholhah menyetubuhi istrinya. Ketika telah selesai memenuhi hajatnya, istrinya mengatakan kabar meninggalnya puteranya. Tatkala tiba pagi hari, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang hal itu. Rasulullah pun bertanya, “Apakah malam kalian tersebut seperti berada di malam pertama?” Abu Tholhah menjawab, “Iya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendo’akan, “Allahumma baarik lahumaa, Ya Allah berkahilah mereka berdua.” Dari hubungan mereka tersebut lahirlah seorang anak laki-laki. Anas berkata bahwa Abu Tholhah berkata padanya, “Jagalah dia sampai engkau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya.” Anas pun membawa anak tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Sulaim juga menitipkan membawa beberapa butir kurma bersama bayi tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengambil anak tersebut lantas berkata, “Apakah ada sesuatu yang dibawa dengan bayi ini?” Mereka berkata, “Iya, ada beberapa butir kurma.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mengunyahnya. Kemudian beliau ambil hasil kunyahan tersebut dari mulutnya, lalu meletakkannya di mulut bayi tersebut. Beliau melakukan tahnik dengan meletakkan kunyahan itu di langit-langit mulut bayi. Beliau pun menamakan anak tersebut dengan ‘Abdullah. (HR. Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144).

Manfaat Tahnik bagi Daya Tahan Tubuh

Tahnik, selain dianjurkan dalam Syariat Islam, tetapi secara ilmiah juga sudah terbukti manfaatnya. Seorang dokter dari Semarang, dr. Susilo Rini telah membuat suatu penelitian, dimana penelitian itu menyimpulkan bahwa ada stem cell[2] yang berada disekitar mulut bayi di tempat tumbuhnya gigi dan di langit-langit mulut. Hal itu berfungsi untuk mematangkan sistem imunitas secara alami dan mengendalikan sistem kekebalan tubuh. Jadi stem cell ini secara alami tidak dapat berfungsi kecuali dengan scrubbing atau menggosok-gosoknya di langit-langit mulut bayi.

Stem cell ini juga terdapat pada sinar matahari dan air susu ibu (ASI). Tetapi yang paling utama itu terdapat di langit-langit mulut bayi.

Kemudian, di dalam penelitian dr. Rini tersebut, ada suatu zat yang bernama sialic acid, zat ini berupa glikoprotein yang terkandung dalam air liur atau saliva yang berfungsi sebagai penghadang mikroba dan mampu mengikat virus serta bakteri.

Pada bayi jumlah sialic acid ini akan berfungsi dengan baik setelah sepuluh hari bayi baru lahir. Karena itulah diperlukan dari luar tubuh si bayi. Sebab, saat bayi itu baru lahir, hanya sedikit jumlahnya.

Bagaimana hubungannya dengan tahnik? Sebelum kita berbicara hubungannya antara stem cell, sialic acid dan tahnik, kita berbicara dahulu tentang kurma. Kurma itu adalah makanan yang tinggi kandungan karbohidratnya dan banyak vitamin-vitamin lain, dimana kita meyakini bahwa kurma itu adalah rajanya buah-buahan yang terbaik dan disukai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Buah kurma merupakan salah satu buah yang disebutkan beberapa kali di dalam Al-Qur’an.

Apabila kurma yang banyak kandungan karbohidrat ini dikunyah, lalu ia bercampur dengan ludah seseorang, maka akan berubah menjadi glukosa. Dimana glukosa ini sangat diperlukan untuk memberikan energi bagi sel-sel pertahan tubuh yang belum matang pada bayi dihari-hari pertama.

Pemberian kurma ini juga merupakan metode pematangan organ limfoid baik lokal maupun sistemik. Limfoid itu adalah kelenjar limfe yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh.

Kurma juga kaya akan antioksidan[3] dan antimikroba.[4] Lantas bagaimana hubungan antara stem cell dengan sialic acid dengan kurma? Semua itu dipadukan dalam suatu aktivitas yang bernama tahnik tadi. Jadi kurma dikunyah oleh seseorang tadi sampai lumat kemudian dikolohkan atau diputar dironggga mulutnya terutama ditekan pada langit-langit mulut bayi, kemudian sambil dido’akan keberkahan untuk bayi tersebut terutama oleh orang-orang yang shalih.

Cara Tahnik

Bunda sebagai orang tua bayi juga boleh melakukan tahnik sendiri. Namun, sesuai anjuran sebaiknya tahnik dilakukan oleh ustadz atau tokoh masyarakat. Caranya dengan mengunyahkan kurma dan memberikannya sedikit di langit-langit mulut bayi. Sehingga bayi terangsang untuk menjilatinya.

Setelah tahnik selesai, ustadz dan tokoh masyarakat ini akan mendoakannya. Kemudian beliau akan memberikan nama untuk bayi. Mintalah nama yang terbaik bagi bayi Anda. Sebab nama adalah doa bagi anak.

Bolehkah Kurma diganti dengan Madu?

Walaupun Tahnik pada dasarnya bisa menggunakan media selain kurma. Tahnik dalam hal ini sebaiknya dengan menggunakan kurma. Beberapa orang menganjurkan menggunakan madu.

Sebaiknya tidak menggunakan madu sebagai pengganti kurma. Sebab di dalam madu ada bakteri-bakteri baik yang dibutuhkan tubuh. Namun akan berbahaya bagi bayi di bawah 12 bulan. Bayi masih belum sempurna daya tahan tubuhnya.

Bolehkah Kurma diganti dengan sari kurma?

Sekali lagi, tahnik itu merupakan kunyahan dari suatu makanan. Air ludah yang sudah bercampur inilah yang juga penting dalam tahnik. Sedangkan sari kurma sudah dalam kondisi cair sehingga kurang baik untuk tahnik. Apalagi ada sebagian yang mengandung tambahan gula.

Jadi kesimpulannya memberikan kurma pada bayi yang baru lahir adalah boleh, bahkan dianjurkan. Selain kurmanya bermanfaat, juga bernilai ibadah. Semoga bermanfaat dan silahkan bagikan kepada orang yang Anda sayangi.

Satu Komentar

Tinggalkan balasan bunda

Alamat Email Bunda tidak akan dipublikasikan Kolom isian yang penting diisi ditandai

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.